Garut (ANTARA News) - Biaya pembuatan akta kelahiran di Kabupaten Garut, Jawa Barat, bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per akta.

"Kita mendapatkan pengaduan dari warga, adanya jual beli ini karena bertepatan dengan moment penerimaan siswa baru," kata Divisi Monitoring Pelayanan Publik, Garut Governance Watch (GGW), Dedi Rosadi, kepada wartawan, Kamis.

Berdasarkan laporan itu, kata Dedi kebanyakan menimpa orang tua yang anaknya akan melanjutkan sekolah ke jenjang tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pembuatan akta kelahiran bagi usia anak lebih dari satu tahun itu, kata Dedi harus mengikuti proses melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dan mendapatkan putusan dari pengadilan negeri.

Namun proses tersebut, kata Dedi, para orang tua mengeluhkan biaya pembuatan akta yang mahal antara Rp1 juta hingga Rp2 juta per akta kelahiran.

"Mereka harus mengeluarkan uang antara Rp1 juta hingga Rp2 juta untuk pembuatan akta lahir anaknya sebagai syarat pendaftaran ke SMP," katanya.

Setelah mendapatkan laporan orang tua pemohon pembuatan akta kelahiran, kata Dedi, GGW langsung menindaklanjuti dengan melakukan penelusuran.

Penelusuran yang dilakukan GGW, kata Dedi sebagai upaya mencari bukti fakta telah terjadi tindakan pemanfaatan oleh oknum pegawai pemerintahan dalam proses pembuatan akta.

Informasi sementara dari hasil penelusuran di lapangan, kata Dedi, memang terjadi tindakan jual beli akta kelahiran yang melibatkan oknum pegawai desa hingga tingkat kabupaten.

"Kasus ini banyak dialami sejumlah daerah di Garut seperti Kecamatan Cisompet, Pameungpeuk dan Malangbong. Adanya praktik 'jual beli' ini, jelas pungli (pungutan liar)," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Catatan Sipil, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kabupaten Garut, Yopi Ramdani belum mengetahui adanya pungutan uang pembuatan akta kelahiran mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Jajaran dinas, kata Yopi, akan melakukan penelusuran mencari kebenaran adanya biaya pembuatan akta kelahiran diluar ketentuan yang sudah ditetapkan.

"Saya belum bisa memberikan komentar banyak, karena perlu dilakukan penelusuran dulu," katanya.

(KR-FPM)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com