Sedikit info Teknologi Informasi dan Komunikasi Terkini | Review Laptop | Spesifikasi Tablet | Harga komputer | Handphone | Bisnis Online | Tips Facebook | Sains

90 Persen Malware Digunakan Hacker untuk Aksi Cybercrime

| Sabtu, 07 Juli 2012

WASHINGTON - Malware, virus dan bug berbahaya digunakan oleh hacker komputer untuk melancarkan aksi kejahatan cyber-nya. Modus yang dilakukannya pun beragam, termasuk memanfaatkan malware itu untuk dapat menyusup ke dalam ponsel cerdas.

"Malware hari ini sangat canggih," ujar Director of Symantec Intelligence Group, David Turner, seperti dilansir CBC, Sabtu (7/7/2012). Dirinya mengestimasi sekira 90 persen dari malware itu digunakan untuk aksi kejahatan cyber, menarget bank dan bisnis serta komputer pribadi.

Ia juga mengatakan, jumlah software berbahaya yang terdeteksi di 2011 mengalami peningkatan sebesar 41 persen ketimbang tahun sebelumnya. Di waktu yang sama, kompleksitas virus komputer juga semakin meningkat.

Enam Cara Baru Hacker Menggunakan Malware
Kemampuan malware ini diklaim luar biasa. Pasalnya, hacker memanfaatkannya untuk melakukan aksi kejahatan cyber-nya yang dapat merugikan pengguna perangkat komputer, tak terkecuali pengguna ponsel cerdas.
 
1. Membobol Ponsel Android
Symantec melaporkan, ada 67 "keluarga" malware yang berkelompok untuk software berbahaya dan ponsel mobile saat ini. Jumlah "keluarga" malware itu meningkat ketimbang di Januari 2010 yang berjumlah 10.

Turner mencatatkan bahwa model open source Android untuk aplikasi ponsel, ketimbang sistem heavily vetted (memeriksa dengan ketat) yang ada di Apple, membuat sistem operasi besutan Google itu menjadi perangkat yang sasaran khusus.

2. Menarget Media Sosial

Media sosial juga terbukti menjadi "makanan" bagi para hacker yang menggunakan situs seperti Facebook dan Twitter untuk menarget kepada siapa serangan itu akan dikirimkan.

Pada 2010, hacker menemukan celah dalam perangkat lunak Adobe dan mengirim sejumlah malware kepada korbannya dengan menyusup menjadi file dengan format pdf.

3. "Menyandera" Komputer untuk Tebusan Uang
"Ransomware", istilah yang dilancarkan hacker sebagai bentuk penyanderaan terhadap komputer milik penggunanya dan modus penipuan populer. Pada umumnya malware ini akan menahan komputer dan hacker mengancam untuk menghapus data, kecuali pembayaran telah dilakukan.

Di Kanada, malware ini dipekerjakan untuk membekukan komputer dan mengirim pesan pop-up. Canadian Security and Intelligence Service mengklaim bahwa malware itu memberi alamat yang terkait dengan konten pornografi anak yang dapat diunduh. Lalu, hacker memanfaatkan malware itu guna membekukan komputer pengguna, kecuali korban memberikan USD100 melalui situs pembayaran online.

4. Mengirim Anda ke Situs Pembuat Uang untuk Hacker
Salah satu virus malware bernama DNSChanger kemungkinan akan diberantas habis mulai 9 Juli 2012, sebagai bagian dari upaya FBI untuk memusnahkan malware itu. November 2011, Operation Ghost Click yang dilakukan mengungkap bahwa lebih dari 25 ribu komputer di Kanada terinfeksi malware DNSChanger.

Malware tersebut mengarahkan aplikasi peramban ke situs untuk memilih hackers. Kemudian, pengguna yang tidak mengetahui bahwa dirinya tertipu, akan meng-click sebuah link tertentu. Selama lebih dari empat tahun lamanya, maka hacker mendapatkan uang hingga sebesar USD20 juta.

5. Spionase

Pada 2010, virus terkuat yang dikenal dengan nama Stuxnet menarget sentrifugal nuklir Iran. Dilaporkan ketika itu, terdapat lebih dari 1.000 mesin yang digunakan untuk uranium, terpaksa harus lumpuh akibat virus tersebut. Delapan bulan kemudian, virus kedua bernama Stars menyerang fasilitas nuklir di Negara yang sama.

Ahli kemanan cyber pernah mengungkapkan worm yang dapat "menambang" sejumlah data dalam skala besar dari mesin yang terinfeksi. Dikenal juga dengan sebutan Flame atau Skywiper, malware itu menggunakan beragam taktik untuk mencuri informasi penting, termasuk trafik jaringan, mengambil screenshots pada program pesan instan, menyadap percakapan suara melalui mikrofon internal di komputer yang terinfeksi serta mengumpulkan password.

6. Hacktivism
Meski kebanyakan malware telah berakar pada aksi kejahatan cyber, beberapa hacker bisa melampirkan pesan politik atau aktivitasnya yang mendukung pekerjaan mereka. Insiden yang baru-baru ini terjadi terkait hacktivism, termasuk melibatkan situs pemerintah Amerika Serikat yang dibobol oleh kelompok Anonymous pada Januari 2012.

Anonymous melancarkan aksinya, sebagai bentuk respon atas penutupan situs berbagi file Megaupload, serta pengambilalihan akun Twitter, Fox News pada 4 Juli. Bahkan, di 2011, hacker mem-posting tweet palsu yang mengklaim Presiden Barack Obama telah dibunuh.
(fmh)



90 Persen Malware Digunakan Hacker untuk Aksi Cybercrime
paimin-pribadi

0 komentar:

Posting Komentar